Yogyakarta, Gunungkidul  13 Mei 2018 tepatnya siang hari, aku tiba di tempat yang tidak aku ketahui.  Aku di antar oleh pengasuh yang ada di Rumah Sejahtera yaitu Mas Yunan. Aku pun masuk ke tempat itu dan mengikuti acaranya. Selesai acara, aku di tuntun menuju asrama oleh kakak tingkatku. Malam pun tiba, kebiasaan di Rumah Sejahtera ketika ganti tahun juga ganti ketua sekaligus pembagian kamar dan kamar mandi. Awal pertama melihat event di panti ini, aku jadi bingung apalagi aku tidak mengerti apa yang mereka katakan karena aku bukan asli Jawa. Aku mendapat kamar nomor tiga belas. Salah satu santri di situ memanggilku.

“ Hei kamu dapat nomor berapa?” tanyanya.

“ Aku nomor tiga belas, kak” jawabku singkat.

“ Berarti sekamar sama aku dong. Nanti kita barengan ya gak usah malu! biasa aja.”

“ Iya kak. Lagi awal-awal pasti malu” kataku.

Malam kedua di Rumah Sejahtera, kami di ajak berkumpul dengan santri baru dan lama. Pengasuh dari Rumah sejahtera  memperkenalkan diri di hadapan para santri dengan duduk di atas sajadah.

“ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh anak-anakku.”

“ Waa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab semuanya.

“ Alhamdulillah. Malam ini, kita punya banyak teman. Nah disini kita tidak ada kata sendiri tapi disini, kita berjuang bersama meraih impian menatap masa depan. Masa lalu biarlah masa lalu dan saatnya kita untuk mengukir masa depan” ujar pengasuhku.

“ Perkenalkan nama bapak, Faizuz Sa’bani dan ibumu bernama Istikomah. Anak-anakku yang baru bisa memanggil dengan sebutan bapak ya. Di sini kita punya teman baru yang rumahnya sama dengan upin ipin. Biar kita lebih kenal silahkan maju dan perkenalkan dengan semua teman” perintahnya.

Aku tidak langsung maju, karena aku sangat malu sekali. Aku senyum-senyum dengan bapak lalu perlahan aku berdiri dan bercerita di depan semua teman.

 “ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“ Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab serentak.

“ Perkenalkan nama saya Siti Sakira, biasanya di panggil Sakira. Asal Makassar merantau di Malaysia. Jadi saya itu bukan asli Melayu hanya saja saya sejak lahir ada di Malaysia. Mimpi saya berada di sini tidak ada lain hanya untuk mengukir masa depan yang lebih cerah dan mampu mengubah diri saya menjadi lebih baik lagi. Dan saya tidak pernah berfikir bisa bertemu dengan kalian semua. Semoga kita semua mampu mewujudkan mimpi kita bersama-sama” kataku.

Setelah perkenalan selesai, bapak langsung memberikan tatacara sholat yang benar sekaligus membimbing bacaannya. Layaknya bagai guru yang hebat etos yang kuat menjadikan diri semakin berkembang di tengah keramaian Rumah Sejahtera.

Pak Lucky dan pak Hastomo adalah dua guru yang telah mengantarkanku ke tempat yang tidak kusangka-sangka. Selalu menjadi supportku dan tidak pernah mengeluh dalam membimbingku. Aku banyak bercerita dengan mereka. Aku bercerita bahwa semua saudaraku tidak ada yang berpendidikan yang tinggi, mereka pun mengajakku untuk tidak berdiam diri saja. Nasihat beliau, bahwa hiduplah dengan caramu sendiri dan keluarlah dari tempat yang membuatmu menjadi terkekang karena kesalahan. Hidup bukan karena kita bisa punya pekerjaan tapi hidup itu tentang seberapa besar kamu menikmati proses suksesmu. Selalu terhinggap di pikiranku dan tidak pernah sirna.

Tahun silih berganti mentari terus bersinar dengan ikhlasnya. Rumah sejahtera banyak mengajarkanku tentang hal kehidupan. Terutama belajar bersosial yang baik pada masyarakat dan selalu berbagi walaupun tempatku sebutan Panti. Namun kami tetap di ajarkan berbagi. Bapak memberikan nasihat kepada kami tentang hal berbagi.

“ Anakku, berbagi itu tidak harus menunggu kaya. Jika kita memiliki sesuatu silahkan berbagi saja. Lebih baik miskin karena berbagi dari pada kaya penuh dengan hutang” nasihatnya.

“ Tidak ada kata telat dalam mengeluarkan harta kita. Kapanpun kita bisa dan dimanapun. Dalam berbagi kita juga harus melihat kadar baik dan halalnya jangan asal memberi tapi juga harus memperhatikan halal wa thayyib ya.”

Aku pun mengerti apa yang bapak katakan. Ilmu yang bapak berikan pasti aku terapkan dalam keseharianku. Menjalani kehidupan penuh semangat walau awalnya aku nangis ingat rumah kakak. Aku bangkit dari  kebodohan keluargaku dengan  mulai menatap masa depan.

Salah satu alasanku tetap bertahan di Rumah Sejahtera, aku ingin mengubah nasib hidupku bahkan aku ingin keluar dari zona bodohnya ajaran keluargaku yang hidup tanpa pendidikan. Suatu saat jika aku sukses aku akan pulang kerumahku dengan menampakkan kesuksesanku lalu mengubah pandangan hidup keluargaku. Lebih asyiknya lagi, di Rumah Sejahtera ini langsung di asuh oleh pengasuhnya sekaligus di bimbing tiap harinya. Berbeda di tempat yang lain.

Bumi berputar mengikuti porosnya. Waktu pun berganti dengan cepatnya. Tidak terasa aku sudah tiga tahun berada di Rumah Sejahtera begitu terasa kasih sayang ibu dan bapak. Sejak awal aku berada di Rumah Sejahtera aku merasa bahwa rumahku yang sesungguhnya ada disini penopang kehidupanku juga ada di sini. Dari sini aku memahami arti kebersamaan ternyata hidup itu bukan tentang aku dan akan menjadi seperti apa aku. Tapi tentang aku, kamu, mereka dan akan menjadi seperti apa kita. Inilah arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Jika Allah masih mengizinkan aku hidup, aku ingin menjadi penopang Rumah Sejahtera. Akan terus berbaur dengan rumah sejahtera dan kembali ke rumah sejahtera setelah pergi menjauh. Aku sadar bahwa Rumah Sejahtera ini adalah rumahku yang telah mewujudkan mimpi-mimpiku.

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.