Yogyakarta – Peranan Pustaka bagi masyarakat kini mulai luntur, terlebih era internet yang kian berkembang dan memudahkan mencari sumber secara instan memungkinkan kiprah pustaka keagamaan kian luntur pula. Terlebih pustaka keagamaan kurang mampu mendokumentasikan referensi dakwah.

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Abdul Jamil menegaskan keberadaan pustaka keagamaan harus mampu mendokumentasikan kembali sumber bacaan keagaam yang hampir punah. ”Banyak sumber bacaan dari orang-orang terdahulu yang hampir punah atau bahkan sudah punah. Oleh karena itu pustaka keagamaan harus mampu mendokumentasikan kembali sumber bacaan tersebut. Selain untuk menyelamatkan sumber-sumber ilmu juga sebagai bentuk penghargaan terhadap ulama-ulama yang berjasa di masa lalu,” tandasnya dalam acara Pelatihan Manajemen dan Pengelolaan Pustaka Keagamaan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (8/5).

Era internet bukan untuk dihindari akan tetapi justru dimanfaatkan untuk perkembangan dakwah Islam di masa kini.

Hal senada juga disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam, Eis Sri Mulyani. ”Sebagai wujud pelestarian sejarah Agama Islam maka pustaka keagamaan harus mampu menyelamatkan dan mendokumentasikan kembali sumber materi dakwah sesuai kearifan dakwah keagamaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pustaka keagamaan cermin perkembangan dakwah Islam dari masa ke masa. Bentuk pustaka akan terlihat kwalitas dakwah Islam. Menjadi tanggung jawab bersama apakah pustaka keagamaan mampu mendokumentasikan sumber materi dakwah atau tidak.(nd)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.